Just Saying : Iklan Radio Susu Bayi (If I’m not mistaken…)

This one will be in Indonesian. It’s been a long time since my last post. I’m surprised that I didn’t need to click on that Forgot My Password? link. Usually, after that long of an absence, my memory fails me. I’ve clicked that link for I don’t know how many times just for this blog alone. Anyway, on to the post (changing to Bahasa Indonesia now)

So, belakangan ini saya mendengar iklan sebuah susu bayi di radio. Sebut saja brand X. Seperti judul post ini, saya hanya sekadar menuliskan saja pendapat saya. Bukan berarti ini benar (bukan berarti juga ini salah, depends on your own interpretation, I guess). Hanya, saya gemes aja ingin menulis tentang hal ini.

Jadi, iklan di radio itu menggunakan suara tiga orang laki-laki yang sudah menikah. Yep, got an inkling of what kind of ad I’m talking about? Di dalam iklan ini, Suami A berkata kalau dia memiliki gossip seru tentang sang isteri.

Pertama-tama, Suami A berkata kalau sang isteri jago masak. Disahutilah oleh kedua temannya yang lain bahwa itu sih bukan gossip hangat dan seru. Semua isteri mereka juga jago masak. Dan poin kedua yang diperdebatkan adalah jago mengurus anak, lagi-lagi kedua teman Suami A berkata kalau isteri-isteri mereka juga jago mengurus anak. Tak mau kalah, poin ketiga dan terakhir pun dikeluarkan oleh Suami A. Poin ketiga itu adalah, isteri Suami A ini hemat! Hebohlah kedua teman Suami A. Mereka bertanya kepada Suami A : BAGAIMANA BISA? Nah barulah Suami A menjelaskan program hemat susu bayi tersebut yang menjadikan isterinya bisa menghemat pengeluaran rumah tangga. Iklan tersebut ditutup dengan ajakan oleh seorang wanita kepada wanita-wanita lain (isteri-isteri lain di luar sana) untuk turut menggunakan produk susu tersebut supaya menjadi ‘Isteri Kebanggaan Suami’. Iklan pun selesai.

Tampak biasa sih secara sekilas. Namun, beberapa kali mendengar iklan tersebut, saya menjadi risih. Maybe I look too much into it, tetapi menurut saya iklan ini adalah tipe iklan yang secara tidak langsung mem-‘brain washed‘ para isteri dan suami (and by default men and women) di Indonesia ini untuk jatuh ke dalam stereotype wanita zaman dahulu. Kenapa saya katakan zaman dahulu? Karena wanita zaman sekarang sudah banyak yang berkarir dan memiliki kehidupan yang sukses (yang lebih sukses daripada laki-laki juga banyak). Dan para lelaki juga sudah memperbolehkan isteri-isteri mereka untuk mengenyam pendidikan dan karir yang mantap. Tak jarang juga sebuah keluarga terdiri dari suami dan isteri yang dua-duanya sukses dalam karir.

Kenapa saya merasa iklan ini seperti iklan ‘brain washing‘? Bisa dilihat dari poin pertama Suami A, yaitu : ISTERI JAGO MASAK. Poin pertama ini tidak ditanggapi dengan heboh oleh kedua temannya. Mengapa? Karena isteri mereka juga jago masak, itu berarti kemampuan memasak dalam seorang isteri itu bukan sesuatu yag luar biasa. Kemampuan itu sudah atau harus dimiliki oleh semua isteri. Dengan respons seperti itu dalam iklan ini, menunjukkan bahwa seorang isteri, wajib hukumnya, bisa memasak. Tapi kemampuan mereka dalam mengolah makanan bukanlah sesuatu yang patut atau pantas untuk dibanggakan karena toh semua wanita (isteri) bisa masak. Got my point?

Next, poin kedua para suami-suami ini yang memiliki makna tersirat yang sama dengan poin pertama : JAGO NGURUS ANAK. Sama dengan nilai ke-isteri-an yang pertama tadi. Poin kedua ini juga disambut dengan setengah hati oleh kedua suami-suami yang lain. Karena seorang wanita yang pintar mengurus anak adalah hal yang wajar. Anggapan seperti ini dan seperti poin pertama, akan membuat para wanita, yang tidak bisa masak dan tidak suka anak kecil, nelangsa. Apakah untuk menjadi isteri dan teman hidup yang baik para wanita harus bisa masak dan mengurus anak? Okay, it’s arguable untuk poin kedua karena seorang ibu harus bisa mengurus anaknya. Tetapi untuk menjadikan hal itu sebagai pengukur standard kebaikan seorang isteri? I don’t think so.

Poin terakhir yang disambut dengan meriah oleh para suami yang lain : HEMAT. Hal ini sangat outrageous menurut saya. Kenapa? Karena kalimat dan pernyataan ini implies that wanita itu boros! Hey, ada wanita yang super pelit juga lho, dan ada juga yang sangat pandai dalam mengatur keuangan diri sendiri maupun rumah tangga. Lucu kalau statement ini dibandingkan dengan pernayataan yang bilang bahwa yang biasanya mengurus masalah keuangan rumah tangga adalah para isteri. So, society, make up your mind! Jadi wanita itu boros atau hemat? Paradoksikal dan bertolak belakang, kan?

Nah, kesimpulan dari iklan ini juga menjadi kesimpulan dari tulisan tak bertujuan ini. Di akhir iklan tersebut, saya menyebutkan ada suara wanita yang mengajak para isteri lainnya untuk membeli produk mereka supaya bisa menjadi isteri kebanggaan suami. Hal ini sangat mengurangi derajat isteri menurut saya. Apakah nilai seorang isteri hanya diukur dari seberapa hemat dia? Apakah hanya diukur dari tiga poin yang disebutkan Suami A di atas? Menurut saya tidak. Nilai seorang isteri dan seorang perempuan tidak bisa hanya diukur dari hal-hal itu saja. There’s so much more than that in a woman. Mengerikan rasanya jika membayangkan, orang-orang yang mendengarkan iklan ini setiap hari di radio. Dan diputar beberapa kali sehari, seakan diputar dalam kondisi loop.

Kita semua tahu betapa kuat media bisa mempengaruhi persepsi kita terhadap segala aspek kehidupan. Sudah bukan hal yang baru atau mengejutkan lagi bila kita melihat konsumerisme yang semakin merajalela, korban-korban iklan yang menggiurkan. Media memang luar biasa kuat dan memikat. Tetapi kita sebagai konsumer juga harus bisa memilah-milah dan menyaring apa yang kita dengar, lihat, dan baca dari media. Ada lapisan-lapisan pesan yang disampaikan dalam sebuah iklan radio sederhana mengenai susu bayi. Iklan susu bayi ini menjadi salah satu contoh bahwa iklan-iklan yang ada di media bukan hanya sekadar mengiklankan produk baru, but there’s something deeper than that and it can alter your way of thinking and even your mind.

Hmm…mungkin next time untuk tulisan Just Saying berikutnya, saya kana membahas mengenai stiker mobil yang marak dipakai orang-orang di Surabaya ini? Tahu kan? Stiker yang itu… Real men use three pedals dan sejenisnya. Selamat malam semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s